Selasa, 27 November 2018

CERPEN SATU CINTA UNTUK EMAK




“Apa? Lima juta?” Ujar Tomi setengah teriak. Kaget.
“Iya Pak. Jika ibu Bapak baru bisa pulang setelah biaya administrasinya beres.” Jawab sang suster setengah tenang.
Jantung Tomi masih berdetak kencang. Kaget. Ditambah kebingungan mendapatkan uang lima juta rupiah. Dari mana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu? Dan berapa lama waktu dia untuk bisa mendapatkan uang berlembar-lembar itu? Seminggu? Dua minggu? Tapi bukankah, semakin lama ibunya di rumah sakit, maka biaya perawatan juga akan semakin bertambah?
“Tidak, ibu harus secepatnya keluar dari rumah sakit.” Bisiknya pelan.
“Jadi gimana, Pak?” Ujar suster di hadapannya.
“Ah? Iya sus, saya saya akan secepatnya membereskan administrasinya.”
Suster berseragam putih biru itu lalu menyodorkan berkas persetujuan operasi pada Tomi. Dengan segala kebingungan dan debaran jantungnya yang semakin kencang, Tomi menandatanganinya. Pasrah.
***
“Wei, siang-siang melamun.” Seseorang dari belakang menepak pundak Tomi. “Udah dapat banyak duit lo?”
“Eh, Bang Jaka.” Ujar Tomi tanpa semangat.
“Gimana si Emak?”
“Emak udah di operasi, tapi sekarang belum bisa pulang karena belum bayar administrasinya. Saya bingung uangnya dari mana, bang. Dari ngojek gini dapat berapa sih sehari. Abang juga tahukan?” Keluh Tomi.
“Kenapa lo gak minjem ke Bang Dulloh aja? Dia kan biasa minjemin uang. Kali aja lo bisa dapat pinjeman dari dia.”
“Bang Dulloh? Rentenir itu?” Tomi setengah kaget.
“Iyah. Yaaaa, walaupun dia rentenir setidaknya untuk saat ini dia bisa bantu lo dan emak lo. Daripada minjem ke bank? Bisa lo?” Bang Jaka mulai membuka buku TTS. Kebiasaannya ketika mengunggu penumpang.
Tomi baru teringat bang Dulloh. Tapi, apa memang harus sama bang Dulloh dia pinjam uang? Rentenir itu?
“Heh, Tom, mending lo pikirin lagi buat pinjem ke bang Dulloh.” Seorang tukang ojek, rekan Tomi, duduk di sampingnya. “Kita-kita udah tau kabar emak lo. Bukannya kita-kita gak mau bantu, cuma lo taukan kebanyakan dari kita udah punya anak bini? Buat sendiri aja masih pas-pasan, apalagi bantu elo. Jadi mending lo timbang-timbang lagi usulan si Jaka itu.”
“Iya Bang, tar saya pikir-pikir lagi. Makasih ya Bang.”
Siang berlalu, langit sore telah siap memayungi perkampungan kumuh tempat Tomi tinggal. Warna kuning langit sore mamberikan panorama langit yang indah. Tomi terbaring di atas atap rumahnya, memandangi langit sore, merenungi jejak-jejak kehidupannya. Kemiskinan. Itulah kondisi yang disesalinya.
Sesal? Memang siapa yang membuat dirinya miskin? Dirinyakah? Atau keadaan? Siapa yang harus disalahkan kalau ia hanya bisa sekolah sampai lulus SMP. Siapa yang salah jika ia tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan akhirnya sekarang hanya bisa ngojek. Siapa yang salah jika ia berpendapatan rendah.
Tiba-tiba bayangan wajah bang Dulloh melintasi pikirannya.
“Bang Dulloh?” Desahnya.
Tomi kemudian bangun, bergegas menuju ke suatu tempat.
Tiga hari berlalu. Tomi masih menimbang-nimbang resiko pinjam uang ke bang Dulloh. Tapi pada siapa lagi ia harus meminta pinjaman uang? Saudara-saudaranya yang ada tidak bisa meminjamkan dia uang. Sedang emaknya harus segera keluar dari rumah sakit. Tapi belum sepeser pun ia miliki. Haruskan pada bang Dulloh? Tidak. Alasan pertama, ia tahu minjam ke rentenir itu dosa. Walau ia tidak pernah ngaji lagi, tapi ia sadar akan dosa bagi yang berhubungan dengan penggandaan pinjaman uang. Kedua, kalaupun pinjam, darimana ia akan bayar uang cicilannya?
Sore menjelang kembali. Tomi memutuskan untuk ke rumah sakit, menjenguk emaknya. Sesampai di rumah sakit, betapa jantungnya seakan mau copot. Seorang suster yang baru selesai mengecek kondisi emaknya dengan tersenyum ramah berkata, “Pak Tomi selamat yah, besok ibu Bapak sudah bisa pulang.”
“A, apaa sus? Bisaaaa pulang?” Gugup.
“Iya. Tadi ada bapak-bapak yang menjenguk dan beliaulah yang membereskan administrasinya.”
“Siapa namanya, sus?”
Suster diam. Lalu dari balik pintu, masuklah seseorang.
“Itu orangnya.” Tunjuk suster pada seseorang yang baru masuk.
Tomi menoleh. “Pak Hajiiii…” Kaget.
Suster berlalu. “Permisi, Pak.”
Tomi segera menghampiri Pak Haji lalu mencium tangannya. “Pak Haji.” Tomi memandangi wajah Pak Haji, lekat.
“Bapak denger dari tetangga, ibu kamu belum bisa pulang sebelum beres administrasi rumah sakitnya. Makanya Bapak berusaha membantu. Daripada kamu pinjam ke si Dulloh itu.”
“Terima kasih pak Haji.” Mata Tomi mulai berkaca-kaca. Sekali lagi ia menciumi tangan pak Haji. “Terima kasih.” Desaknya akan menangis.
“Sudahlah. Almarhum bapakmu adalah sahabat dekat bapak. Jadi jangan sungkan-sungkan pada Bapak yah.”
“Terima kasih, Pak haji.”
Sore itu, Tomi bisa membawa pulang emaknya, dibarengi pak Haji.


***

0 komentar:

Posting Komentar

Blog Archive