Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Januari 2019

CALON-CALON PENGHUNI SURGA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keberadaan surga ditunjukkan dengan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Dari al-Qur’an, di antaranya adalah firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,

                            عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى   

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (QS. An-Najm: 13-15)
Disebutkan di dalam as-Shohihain (riwayat al-Bukhori dan Muslim) dari hadits Anas rodhiyAllohu ‘anhu dalam kisah Isro’ Mi’raj bahwa Nabi Muhammad melihat Sidrotil Muntaha dan melihat di sisinya ada Jannatul Ma’wa. Beliau bersabda,
“Kemudian Jibril membawaku pergi hingga berhenti di Sidrotil Muntaha, maka Sidrotil Muntaha itu diliputi warna-warni yang aku sendiri tidak mengetahui apa itu. Lalu beliau bersabda, “Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya bertahtakan mutiara dan debunya terbuat dari misik.”
(HR al-Bukhori dan Muslim)


Dan di dalam riwayat lain dari Ibnu Umar rodhiyAllohu ‘anhu, Rasululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila mati maka akan diperlihatkan kepadanya tempat kembalinya setiap pagi dan sore. Kalau diperlihatkan bahwa dia termasuk penghuni neraka, maka dia akan menjadi penghuni neraka. Dan Jika diperlihatkan sebagai penghuni surga, maka dia akan menjadi penghuni surga. Lalu dikatakan, “Inilah tempatmu hingga Alloh membangkitkanmu pada hari Kiamat.” (HR al-Bukhori dan Muslim)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa surga adalah makhluk Alloh subhanahu wata’ala yang telah diciptakan, sebagaimana pula dengan neraka. Maka orang yang menyelisihi keyakinan ini adalah termasuk ahli bid’ah, seperti mu’tazilah yang mengatakan bahwa surga belum diciptakan, tetapi baru diciptakan pada hari Kiamat kelak.

B. Tujuan
            Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengkaji calon-calon penghuni surga dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua


BAB II
CALON-CALON PENGHUNI SURGA

A.    CALON-CALON PENGHUNI SURGA

Ø  Surat Al- Ahqaf ayat 15

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ         ثَلَاثُونَ  شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ      نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ  عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي      فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa, dan umumya sampai empat puluh tahun ia berdoa : Ya, Tuhanku tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhoi, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Ø  Surat Al- Ahqaf ayat 16

         وْلَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ      الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

"Mereka itulah orang-orang yang diterima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan, dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni penghuni Surga, sebagai janji yang benar yang telah Kami janjikan kepada mereka"




Mengikuti ayat tersebut, kita memperoleh kesimpulan tentang siapakah orang yang bakal masuk Surga.
1.      Orang yang berbuat baik kepada ibu bapaknya
2.      Orang yang pandai bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diterimanya.
3.      Orang yang beramal saleh dengan mengharap ridho Allah.
4.      Orang yang bertaubat atas segala kesalahan yang pernah dia lakukan.
5.      Orang yang berserah diri hanya kepada Allah saja.

ldealnya, kita bisa mengerjakan kelima hal tersebut dalam kehidupan kita. Maka Insya Allah kita akan menjadi salah satu dari penduduk Surga. Itulah janji Allah. Orang yang demikian, kata Allah, akan diterima amalannya dan dimaafkan segala kesalahannya. Bagaimanakah penjelasannya? Marilah kita bahas lebih jauh.
1. Berbuat Baik kepada Ibu Bapak.

Kenapa orang yang berbuat baik kepada ibu bapaknya menjadi calon penghuni Surga? Sebab, orang tua adalah wakil Allah di muka Bumi, berkaitan dengan penciptaan manusia. Kalau tidak ada orang tua kita, maka kita pun tidak akan pernah ada di muka Bumi ini.
Karena itu, kita bisa merasakan betapa besar dan sentralnya peranan orang tua dalam kehidupan kita. lbu kitalah yang bersusah payah mengandung, memelihara dan mendidik sampai kita dewasa. Dan bapak kita berusaha mati-matian untuk menafkahi keluarga. Mempertahankan hidup kita sampai dewasa. Sampai bisa dilepas untuk bisa hidup mandiri. Maka, kata Allah di dalam ayat tersebut, anak yang bisa membalas budi kepada orang tuanya dan mendoakan mereka termasuk perhatian kepada anak cucunya akan memperoleh penghargaan yang tinggi dari Allah. Orang yang seperti ini, telah 'membantu' Allah untuk menciptakan generasi-generasi yang berkualitas di muka Bumi bagi masa depannya. Maka, ia berhak memperoleh kebahagiaan Surga.

2. Orang Yang Pandai Bersyukur.

Orang yang pandai bersyukur menunjukkan bahwa ia adalah orang yang bijak. Sedangkan orang yang bijak menunjukkan bahwa dia orang yang memiliki pemahaman yang mendalam. Dan, orang yang memiliki pemahaman yang mendalam menunjukkan bahwa ia telah makan asam garam kehidupan.
Dalam konteks agama, ia bukan hanya orang yang bisa berteori di dalam beragama, melainkan telah menjalani agama ini dengan sepenuh hatinya. la telah 'bertemu' Allah dalam setiap aktivitas kehidupannya. Bagaimana seseorang bisa bersyukur, kalau ia tidak pernah 'bertemu Allah'. Kepada siapakah ia bersyukur jika ia tidak paham bahwa Allah lah Tuhan semesta alam. Bahwa Allah lah yang telah memberinya kenikmatan itu. Baik berupa kesehatan, harta, kedudukan, ilmu pengetahuan, dan berbagai macam kenikmatan lainnya.

Orang yang bisa bersyukur adalah orang yang telah melewati masa-masa kritis dalam keimanannya, dalam ketakwaannya. la telah ditempa kehidupan yang memberikan kesimpulan bahwa hidup ini temyata milik Allah. Bukan miliknya. Karena itu, ia mensyukuri segala nikmat yang diperolehnya, sebab ia tahu persis bahwa semua itu semata-mata pemberianNya ... ! Maka, orang yang demikian ini sangat pantas tinggal di Surga.



3. Beramal Saleh, Mengharap Ridha Allah.
Kenapa pulakah orang yang beramal saleh pantas masuk Surga? Orang yang beramal saleh adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya ingin bermanfaat sebesar-besarnya. Baik buat dirinya sendiri, buat keluarganya, buat sahabat-sahabatnya, buat masyarakatnya, buat bangsa dan akhirnya buat syiar agamanya.
Orang yang bisa beramal saleh adalah orang yang paham tentang misi kehidupan dan misi beragamanya. ia telah menemukan pemahaman yang menyeluruh (holistik) atas kehidupannya. Dan, setelah paham semua itu,  ia lantas melakukan amalan yang bermanfaat sepanjang hidupnya. Di mana pun dia berada.
Maka, orang yang demikian adalah orang-orang yang telah melewati tahapan iman dan takwa. Sebab Iman adalah Keyakinan. Dan Takwa adalah kemampuan mengendalikan diri saat melakukan amalan. Kedua duanya telah dijalankannya secara praktis saat ia melakukan amalan yang saleh.
Maka, pantaslah seorang yang banyak amalan salehnya akan memasuki Surga. Karena sebenarnya, itu adalah gambaran praktis dari seorang yang telah tinggi keimanan dan takwanya. Apalagi amalan salehnya itu bukan karena pamer atau pamrih, melainkan karena ingin mencari ridha Allah.

4. Orang yang Bertaubat.
Siapakah orang yang tidak pernah berbuat salah? Siapa pulakah manusia yang tidak pernah berdosa? Tidak ada, kecuali hamba hambaNya yang dijaga agar tetap makshum oleh Allah, sebagaimana Rasulullah saw. Karena itu, Allah telah menetapkan Dirinya sebagai Dzat Yang Maha Pengampun dan Penerima Taubat. Jika Allah menghukum manusia karena kesalahannya, maka manusia seluruh muka Bumi ini tidak ada yang tersisa satu pun dari azabNya. Tetapi Allah Maha Pengampun dan Maha Pemaaf. Maka, sebenarnya, orang-orang yang bisa masuk Surga itu lebih dikarenakan sifat Pengampun dan PemaafNya saja. Jika tidak, maka sungguh tidak ada yang pantas masuk ke dalam Surga Allah itu, disebabkan oleh begitu banyak dosa yang telah diperbuatnya.
Karena itu, Allah mengatakan di dalam ayat tersebut bahwa orang-orang yang pantas masuk Surga itu adalah orang-orang yang selalu bertaubat kepadaNya.Bertaubat adalah memohon ampunan dan belas kasih permaafan dari Allah atas segala dosa dan kesalahan yang telah di perbuatnya. Dan dia berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada Allah untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Kalau kita sepenuh hati memohon ampunanNya dan bertaubat, Insya Allah Dia akan memaafkan dosa-dosa kita, sebesar apa pun dosa yang telah kita lakukan. Tidak ada dosa di alam semesta ini yang besamya melebihi besamya Kasih Sayang Allah. Demikian pula, tidak ada dosa di dunia ini yang besarnya mengalahkan sifat Pengampun dan Pemaafnya Allah.
Maka, datanglah kepadaNya dengan berendah diri dan penuh penyesalan, Insya Allah Dia akan mengampuni dosa-dosa yang pernah kita lakukan, seluruhnya. Dan Ia akan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hambaNya di dalam Surga.

5. Berserah Diri Hanya kepada Allah Saja.

Puncak dari seluruh perjalanan keagamaan kita ini sebenarnya adalah berserah diri kepada Allah. Seluruh tahapan-tahapan kualitas yang pernah kita jalani dalam beragama, muaranya adalah berserah diri kepada Allah saja. Hal ini dikemukan Allah di dalam berbagai ayatNya.

Ø  QS. An Nisaa : 125

وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya di antara kalian, selain orang orang yang berserah diri hanya kepada Allah, dan dia selalu berbuat kebajikan…”

Berserah diri adalah tingkatan tertinggi di dalam beragama Islam. Sehingga secara retorika, Allah bertanya kepada kita : siapakah yang lebih baik agamanya di antara manusia, kecuali orang-orang yang berserah diri kepada Allah? Jawaban atas pertanyaan itu telah diberikan sendiri olehNya, bahwa yang terbaik adalah berserah diri

Di ayatNya yang lain, secara tegas Allah menempatkan 'berserah diri' itu di atas keimanan dan ketakwaan.
Ø  QS. Ali Imran (3) : 102


               يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ   
"Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri (Islam)."

Keimanan adalah langkah awal, dimana seseorang 'dianjurkan' untuk memperoleh keyakinan bahwa apa yang akan dia jalani di dalam beragama ini adalah benar dan bermanfaat.Setelah ia peroleh keyakinan itu, maka ia mesti menjalankan dalam kehidupan yang sesungguhnya. Sebab beragama ini memang bukan sekadar pengetahuan dan keyakinan saja, melainkan untuk dijalani. Diamalkan. Itulah Takwa : sebuah upaya terus-menerus untuk tetap istidomah di dalam menjalani agama. Ini tidak mudah. Karena itu Allah mengatakan di ayat tersebut bertakwalah kalian dengan 'sebenar benarnya'. Dengan upaya yang sangat keras dan sungguh-sungguh.
Dan puncaknya, adalah berserah diri kepada Allah semata. Orang yang sudah makan asam garam kehidupan dalam proses peribadatan yang sangat panjang. Ketika seseorang sudah mencapai tingkatan 'berserah diri kepada Allah', maka bisa dikatakan dia sudah menemukan hakikat kehidupan. Bahwa segala yang ada ini tenyata bukan miliknya. Harta yang dia punyai pun sebenarnya bukan miliknya. Karena ternyata, dia tidak pernah bisa menolak kehadiran maupun lenyapnya harta itu ketika sudah waktunya.
Demikian pula istri atau suami, dan keluarga yang dicintainya. Semuanya juga bukan miliknya. Karena suatu ketika, mereka satu per satu akan meninggalkannya. Kekuasaan, juga tidak pernah ada yang kekal abadi. Kekuasaan yang dia peroleh hari ini, suatu ketika harus dilepasnya pula. Dia dibatasi oleh umur dan kondisi di sekelilingnya. Bahkan dirinya dan hidupnya. Ternyata, juga bukan miliknya. Dia tidak pernah bisa menghindari sakit, lelah, sedih, gembira dan berbagai masalah yang menghampiri kehidupannya. Bahkan akhirnya, dia tidak pernah bisa melawan proses ketuaan. Suatu ketika dia harus merelakan kehidupannya, meninggalkan dunia yang fana, untuk kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Maka, ujung dari seluruh perjalanan kehidupannya itu, ia menyimpulkan untuk berserah, diri kepada Allah saja. la mengakui, bahwa dirinya bukan apa-apa. Allah lah yang memiliki dan berkuasa atas segala-galanya di alam semesta. la letakkan seluruh rasa possessive nya, rasa kepemilikannya terhadap dunia. Dia menata hatinya untuk kembali kepada Allah. Berserah diri sepenuh-penuhnya, sebagaimana yang selalu ia ikrarkan dalam setiap shalatnya : "sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku kuserahkan hanya untuk Allah semata . . . "
Kalau sudah demikian adanya, maka sesungguhnya ia telah memperoleh Surga dunia. Dan setelah hari kiamat nanti, Allah akan memasukkan orang itu ke dalam Surga yang sesungguhnya. Bukan hanya 'wilayah Surga' yang penuh dengan taman-taman indah, mata air mata air yang jernih, buah-buahan yang sedap rasanya, serta berbagai kenikmatan kebendaan. Karena sejak di dunia ia telah terlanjur memperoleh kesimpulan bahwa semua kenikmatan benda itu adalah 'semu belaka'! 'Kenikmatan Yang Sejati' telah dia peroleh lewat dzikir-dzikirnya yang panjang kepada Allah. Telah dia rasakan saat-saat shalat malam dalam  keheningan semesta. Dan telah dia 'genggam' dalam seluruh tarikan nafas maupun denyut jantungnya yang selalu membisikkan kalimat-kalimat tauhid : Allah ... Allah ... Allah ...

B.     SIFAT-SIFAT PENGHUNI SURGA
Surga adalah suatu tempat bagi para nabi, syuhada, shadiqin dan shalihin. Di antara sifat-sifat para penghuni surga adalah :
  1. Tinggi badan penghuni Surga adalah seperti Nabi Adam a.s. yaitu 60 hasta atau 90 kaki.
  2. Ketampanannya seperti Nabi Yusuf a.s.
  3. Usianya tidak akan pernah tua seperti Nabi Isa a.s.
  4.  Suaranya merdu seperti suara Nabi Dawud a.s.
  5. Kesabarannya seperti Nabi Ayyub a.s.
  6. Akhlaknya seperti akhlak Nabi Muhammad saw..


BAB III
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
  1. Ahli surga adalah tempat dimana orang-orang yang mempuyai iman yang kuat dan tahan dari segala godaan setan yang terkutuk
  2. Kehidupan dunia ini semu dan kehidupan yang sesungguhnya adalah surga yang menyediakan semua kemudahan untuk penghuninya.

C.    Saran-Saran

1.      Semoga dengan adanya makalah ini dapat tergerak hati kita untuk hidup dalam ketakwaan sehingga akhir dari segalanya Allah memberikan surga bagi kita sebagai mana amalan ibadah kita
2.      Saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan agar penulis dapat memperbaiki segala kesalahan dalam penulisan makalah ini.






















DAFTAR PUSTAKA

Abu Fatiah Al Adnani & Abdur Rahman Al-Wasithi,( 2000),  1001 Wajah Manusia Di Padang Mahsyar , Penerbit Qultum Media

M. Ali Chasan Umar ( 1980 ), Calon-Calon Ahli Syurga dan Ahli Neraka, Penerbit PT Toha Putra Semarang

Mohamad Nurhakim ( 2003), Jatuhnya Sebuah Tamadun‎, Penerbit PTS Islamika



Continue Reading →

Jumat, 14 Desember 2018

MAKALAH : TUJUAN PENDIDIKAN DALAM PERFEKTIF ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang sempurna. Ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan. Termasuk di dalamnya adalah masalah pendidikan. Bahkan Islam adalah agama yang memperhatikan masalah pendidikan dan ilmu pengetahuan dengan porsi yang sangat besar. Bahkan keseluruhan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah merupakan materi pendidikan dan ilmu pengetahuan yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain maupun ideologi-ideologi lain.
Sejarah mencatata bahwa bangsa Arab yang buta huruf, dengan pendidikan Islam yang khas, yang diterapkan oleh Rasulullah saw., telah berubah menjadi bangsa pelopor yang telah mampu menerangi dunia dan menjadi guru bagi dunia. Dalam pergerakan kultural yang dilakukan oleh para Ulama, guru-guru pengajar Al Quran dan As Sunnah, serta hukum-hukum Syariah Islam, yang dilakukan dalam kurun waktu kurang lebih satu abad, hampir 2/3 dunia lama telah mengenyam Islam sebagai agama, budaya, dan hukum, dan khasanah pengetahuan yang baru: tsaqafah Islamiyah. Berbagai bangsa yang beragam agama, adat-istiadat, dan sistem hukum dan perundangannya, menjadi satu umat, satu bahasa, satu hukum, dan satu negara Islam.
Peradaban Islam pun dikatakan sebagai jembatan peradaban yang telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan warisan Yunani sehingga dapat sampai kepada masa pencarahan bangsa-bangsa Eropa sehingga menjadikan perkembangan yang luar biasa seperti sekarang.

BAB II
PENDIDIKAN DALAM PERPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

1. JENIS-JENIS PENDIDIKAN
Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.
  1. Pendidikan umum
         Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan   perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan   pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
  1. Pendidikan kejuruan
       Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
  1. Pendidikan akademik
      Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.
  1. Pendidikan profesi
      Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesional.
  1. Pendidikan vokasi
      Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana
  1. Pendidikan keagamaan
            Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama.
  1. Pendidikan khusus
             Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat

2. SYARAT SYARAT YANG HARUS DIMILIKI PENDIDIK
        Untuk dapat melakukan peranan dan melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya, sebagai pendidik memerlukan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat inilah yang akan membedakan antara pendidik dari manusia-manusia lain pada umumnya.
Adapun syarat-syarat menjadi pendidik yaitu: 
1. Persyaratan Administratife
       Syarat-syarat administrative ini antara lain meliputi: soal kewarganegaraan (warga Negara Indonesia), umur (sekurang-kurangnya 18 tahun), berkelakuan baik, mengajukan permohonan. Disamping itu masih ada syarat-syarat lain yang telah ditentukan sesuai dengan kebijakan yang ada.
2. Persyaratan Tekhnis
Dalam persyaratan tekhnis ini ada yang bersifat formal yakni harus berijazah pendidikan guru. Hal ini mempunyai konotasi bahwa seseorang yang memilik ijazah pendidikan guru itu dinilai sudah mampu mengajar. Kemudian starat-syarat yang lain adalah menguasai cara dan tekhnik mengajar, terampil mendesain program pengajaran serta memiliki motivasi dan cita-cita memajukan pendidikan atau pengajaran.
3. Persyaratan Psikis
       Yang berkaitan dengan kelompok persyaratan psikis, antara lain: sehat rohani, dewasa dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan emosi, sabar, ramah dan sopan, memilik jiwa kepemimpinan, konsekuen dan berani bertanggung jawab, berani berkorban dan memilik jiwa pengabdian. Disamping itu, guru juga dituntut untuk bersifat pragmatis dan realistis, tetapi juga memilik pandangan yang mendasar dan filosofis. Guru juga harus mematuhi norma dan nilaiyang berlaku serta memiliki semangat membangun. Inilah pentingnya bahwa guru harus memilikpanggilan hati nurani untuk mengabdi demi anak didik.
4. Persyaratan Fisik
       Persyaratn fisik antara lain meliputi: berbadan sehat, tidak memilik cacat tubuh yang mungkin mengganggu pekerjaannya, tidak memilik gejala-gejala penyakit yang menular. Dalam persyaratan fisik ini juga menyangkut kerapian dan kebersihan termasuk bagaimana cara berpakaian. Sebab bagaimanapun juga guru akan selaluu dilihat atau diamati dan bahkan dinilai oleh para siswa atau anak.
        Dari berbagai persyaratan yang telah dikemukakan diatas, menunjukkan bahwa pendidik menempati bagian ‘tersendiri’ dengan berbagai cirri kekhususannya, apalagi kalau dikaitkan dengan tugas keprofesiannya. Sesuai dengan tugas keprofesiannya, maka sifat dan persyaratan tersebut secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam spectrum yang lebih luas, yakni pendidik harus:
1. Memiliki kemampuan profesional
2. Memilki kapasitas intelektual
3. Memilki sifat edukasi sosial
          Ketiga syarat kemampuan itu diharapkan telah dimiliki oleh setiap pendidik sehingga mampu memenuhi fungsinya sebagai pendidik bangsa, seorang pendidik disekolah dan pemimpin di masyarakat. Untuk itu diperlukan kedewasaan dan kematangan diri pendidik itu sendiri. Dengan kata lain bahwa ketiga syarat kemampuan tersebut perlu dihubungkan dengan tingkat kedewasaan dari seorang pendidik.

3. PENDIDIKAN DALAM PERPEKSTIF  PENDIDIKAN ISLAM
Pengertian pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaan. Pendidik Islam ialah Individu yang melaksanakan tindakan mendidik secara Islami dalam situasi pendidikan islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Menurut Langgulung (1997), pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu
1.  At-Tarbiyyah Ad-Din (Pendidikan keagamaan)
2.  At-Ta’lim fil Islamy (pengajaran keislaman)
3.  Tarbiyyah Al-Muslimin (Pendidikan orang-orang islam).
4.  At-tarbiyyah fil Islam (Pendidikan dalam islam)
5. At-Tarbiyyah ‘inda Muslimin (pendidikan dikalangan Orang-orang     Islam),
6. At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (Pendidikan Islami).
Pendidik Islam ialah Individu yang melaksanakan tindakan mendidik secara Islami dalam situasi pendidikan islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Para ahli pendidikan lebih menyoroti istilah-istilah dari aspek perbedaan antara tarbiyyah dan ta’lim, atau antara pendidikan dan pengajaran. Dan dikalangan penulis Indonesia, istilah pendidikan biasanya lebih diarahkan pada pembinaan watak, moral, sikap atau kepribadian, atau lebih mengarah kepada afektif, sementara pengajaran lebih diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan atau menonjolkan dimensi kognitif dan psikomotor.
Pandangan di atas menegaskan bahwa pada dasarnya pendidikan Islam, bagaimanapun betuk, model dan sistem yang diterapkan, sangat menitikberatkan pada upaya pemahaman terhadap nilai-nilai Islam sebagai way of life. Karena itu dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam bukan sekedar melaksanakan proses pembelajaran yang bertujuan menciptakan manusia yang potensial secara intelektual melalui transfer of knowledge. Lebih dari itu, pendidikan Islam tetap bermuara pada cita-cita pembentukan masyarakat yang berwatak, beretika dan berestetika melalui transfer of values yang terkandung di dalamnya.     
Ajaran Islam yang terumuskan dalam bentuk nilai-nilai diharapkan pada gilirannya terekspresi dalam bentuk sikap dan pandangan hidup muslim sejati sebagaimana yang dicita-citakan oleh al-Qur'an. Dengan demikian, maka jelaslah bahwa hakikat cita-cita pendidikan Islam tampak lebih dekat dengan ruh spiritual yang menjadi kandungannya. Sehingga dikatakan bahwa keinginan yang paling subtansial dari penddikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia beriman dan berpengetahuan (S. Husein; 1979: 33).
Salah satu tujuan prinsipil dalam sistem pendidikan Islam adalah pencapaian dan pembentukan kualitas manusia seutuhnya, dalam arti prncapaian tingkat kualitas manusia yang optimal, baik dari segi lahiriah maupun batiniah. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tujuan dan cita-cita pendidikan Islam pada intinya adalah pembentukan manusia muslim tidak hanya berilmu pengetahuan, tapi juga beriman dan bertakwa. Pendidikan Islam tidak hanya melaksanakan transfer of knowledge, tapi juga melaksanakan hal yang tidak kalah pentingnya, yaitu transfer of value
  

BAB III
SIMPULAN
A.    Kesimpulan
1.      Penerapan Jenis- jenis pendidikan dalam pefpektif islam harus diterapkan dengan sungguh-sungguh agar dapat membuahkan hasil yang optimal di kemudian hari
2.      Syarat –syarat yang harus dimiliki pendidik pada umumnya : persyaratan Administratif, persyaratan tehnis, persyaratan psikip, persyaratn Fisik
3.      Pendidikan secara perspektif islam diharapkan mampu mencetak anak didik yang dalam perkembanggan jasmani dan rohani mencapai puncak kedewasaan dalam wahana islami.

B. Saran- Saran
1.      Mudah-mudahan makalah ini dapat membuat ilmu kita bertambah dalam pengetahuan tentang pendidikan dalam perspektif islam dan dapat menjadi referensi umum untuk pengetahuan.
2.      Dan juga penulis harapkan saran dan kritik yang bersifat membangun agar wawasan penulis lebih luas dalam penulisan makalah selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir., Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam., PT. Remaja Rosdakarya., Bandung, 2001
Husein, Syed Sajjad, Crisis in Muslim Education, Jeddah : Galasa Nusantara, 1979
Langgulung, Hasan, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, Bandung: al-Ma'arif, 1980


Continue Reading →

Minggu, 31 Desember 2017

Makalah Alam Fikir Manusia dan Perkembangannya

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Pendahuluan
Manusia dewasa ini telah banyak merasakan kenikmatan hidup, baik berupa nikmat jasmani maupun nikmat rohani. Kenikmatan jasmani dapat dilihat dari terpenuhinya berbagai macam kebutuhan manusia mulai dari kebutuhan sandang, pangan, maupun papan sampai dengan kebutuhan sarana pendidikan, sosial, budaya dan lain-lain. Sedangkan kenikmatan rohani dapat dilihat dengan terpenuhinya berbagai jenis keperluan sosial keagamaan, penyegaran jiwa misalnya adanya tempat-tempat wisata, pagelaran kesenian musik, lukis, maupun drama serta banyaknya berdiri tempat-tempat ibadah keagamaan dan lain-lain.

Download Full
Continue Reading →

Kamis, 28 Desember 2017

Makalah Transplantasi Darah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Transplantasi ginjal (TG) adalah pengobatan paripurna (Total Renal Replacement Teraphy) pada pasien gagal ginjal terminal (GGT). Disebut gagal ginjal terminal atau gagal ginjal tahap akhir bila fungsi ginjal sudah sangat terganggu dan hanya tinggal sekitar 5-15 % serta tidak mungkin diperbaiki dengan pengobatan konservatif berupa diet maupun obat-obatan. Keadaan ini merupakan tahap lanjut dari suatu penyakit ginjal yang dikategorikan sebagai penyakit ginjal kronis tahap 5 tanpa membedakan penyebabnya.
“Umumnya ukuran kedua ginjal sudah mengecil dan padat,” kata Dr. Tunggul D Situmorang SpPD –KGH, Direktur Ketua RS PGI Cikini, Jakarta Pusat dalam seminar awam yang diselenggarakan dalam rangka ulang tahun ke- 4 Indonesia Kidney Care Club (IKCC)di Auditorium RS PGI Cikini, Sabtu, 31 Mei 2008.
Pada tahap tersebut pasien membutuhkan pengobatan pengganti ginjal (renal replacement theraphy), berupa “cuci darah” (dialysis) baik dengan mesin (hemodialysis =HD) atau melalui perut (peritoneal dialysis = CAPD). Sayangnya tindakan dialisis tidak mungkin dapat menggantikan seluruh fungsi ginjal. Fungsi pembentukan darah dan metabolisme tulang tidak dapat digantikan dengan dialisis. Karena itulah transplantasi ginjal merupakan pilihan yang paling ideal dan paling tepata untuk saat ini. ( Catatan : sebelum teknologi Sel Punca / Stem Cell mampu menggantikannya kelak).


Download Full
Continue Reading →

Makalah Dampak Polusi Terhadap Lingkungan Hidup

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dampak Polusi  adalah merupakan sebagai kaidah/norma maupun koridor hukum Lingkungan Hidup, dimana tetap saja terjadi pelanggaran terhadap polusi  Lingkungan Hidup, yang sewaktu-waktu dapat mengganggu kehidupan manusia di bumi ini, seperti berbagai bencana alam yang ditimbulkan akibat polusi  tersebut.

Atas dasar tersebut maka sudah seharusnyalah perlu adanya peraturan yang mengatur secara tegas dan tajam untuk mencegah terjadi polusi  lingkungan hidup dalam hal ini peraturan/undang-undang mengenai AMDAL, yang dalam hal ini adalah sebagai kewenangan/prodak dari Pemda maupun Pemerintah Pusat. Terdapat permasalahan yang terjadi yaitu : 1.bagaimanakah Pendekatan Intrumental yang berupa undang-undang dan Pendekatan Alam akibat dampak polusi  Lingkungan Hidup yang berpengaruh terhadap kondisi internal maupun eksternal ?, 2.bagaimanakah caranya untuk memperkecil akibat dampak polusi  Lingkungan Hidup tersebut, agar terhindar dari berbagai macam bencana yang sering terjadi ?


Download Full
Continue Reading →

Makalah Pesan-Pesan Imam Mazhab Dan Sikap-Sikap Para Pendukungnya

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Mazhab (bahasa Arab: مذهب, madzhab) adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu dikatakan mazhab bagi seseorang jika cara atau jalan tersebut menjadi ciri khasnya. Menurut para ulama dan ahli agama Islam, yang dinamakan mazhab adalah metode (manhaj) yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah.


Download Full
Continue Reading →

Makalah Hubungan kebenaran pengetahuan, moral, Etika, dan seni

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Etika dan aktualisasinya akan selalu menjadi bagian dari proses perkembangan kehidupan manusia yang bisa muncul akibat pengaruh dari masalah keagamaan, atau aktualisasi etika juga diakibatkan dari bagian kausalitas yang dimunculkan oleh ilmu pengetahuan. bahwa dalam studi agama dikenal dua jenis pendekatan seorang believer dan pendekatan seorang historian. Oleh karena itu, akan berbeda antara “mukmin” (percaya dengan sepenuh hati), dengan seorang “muarrikh” (ilmuwan yang kritis) dalam melihat realitas empirik kehidupan manusia.

Bangsa yang maju. Dengan al-Qur’an maka dapat ditimbulkan tiga hal sekaligus, seni, ilmu, dan agama. Dengan seni hidup menjadi halus dan syahdu, dengan ilmu hidup menjadi maju dan enak, serta dengan agama hidup menjadi bermakna dan bahagia. Adapun tema “Ilmu, Etika, dan Agama” menarik untuk diaktualisasikan kembali karena ada sebagian ilmu yang pure dilatarbelakangi oleh suatu ijtihad pengembangan peradaban justru dikotori oleh “akibat-akibat” yang ditimbulkan. Akibat-akibat tersebut tidak langsung berhubungan dengan domain ilmu yang dikembangkan, tetapi terkait dengan kedalaman “etika dan agama” si pengembang. 

Download Full
Continue Reading →

Makalah Para Pengarang Di Indonesia

BAB I
PEMBUKAAN

A.          Latar Belakang
Dari sekian banyak bentuk sastra seperti esei, puisi, novel, cerita pendek, drama, bentuk novel, cerita pendeklah yang paling banyak dibaca oleh para pembaca. Karya– karya modern klasik dalam kesusasteraan, kebanyakan juga berisi karya– karya novel.
Novel merupakan bentuk karya sastra yang paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak beredar, lantaran daya komunikasinya yang luas pada masyarakat. Sebagai bahan bacaan, novel dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu karya serius dan karya hiburan. Pendapat demikian memang benar tapi juga ada kelanjutannya.

Yakni bahwa tidak semua yang mampu memberikan hiburan bisa disebut sebagai karya sastra serius. Sebuah novel serius bukan saja dituntut agar dia merupakan karya yang indah, menarik dan dengan demikian juga memberikan hiburan pada kita. Tetapi ia juga dituntut lebih dari itu. Novel adalah novel syarat utamanya adalah bawa ia mesti menarik, menghibur dan mendatangkan rasa puas setelah orang habis membacanya.


Download Full
Continue Reading →

Makalah Hakikat dan Ciri Belajar Lengkap


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Gagne belajar didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman. Galloway dalam Toeti Soekamto (1992: 27) mengatakan belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Sedangkan Morgan menyebutkan bahwa suatu kegiatan dikatakan belajar apabila memiliki tiga ciri-ciri sebagai berikut.

  • Belajar adalah perubahan tingkahlaku;
  • Perubahan terjadi karena latihan dan pengalaman, bukan karena pertumbuhan;
  • Perubahan tersebut harus bersifat permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama
Download Full
Continue Reading →

Makalah Profil Buya Hamka

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam perjalanan negara Indonesia tercatat sekian banyak pejuang-pejuang pembaharu dan perubahan dalam tatanan negara maupun agama. Seorang Da’i yang bercita-cita akan adanya perubahan yang lebih sempurna maka membaca dan menelaah sejarah mereka para pelaku perubahan adalah salah satu cara dan usaha untuk keindahan langkah dalam menggapai cita-cita agung tersebut.

Maka berangkat dari hal tersebut penulis akan mencoba menyajikan dan memaparkan hasil bacaan dan telaah tentang seorang tokoh pembaharu dan ulama, beliau adalah Buya Hamka.

Download Full
Continue Reading →

Makalah 7 Fungsi Hutan dan Jenis-Jenis Hutan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hutan adalah karunia alam yang memiliki potensi dan fungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Potensi dan fungsi tersebut mengandung manfaat bagi populasi manusia bila dikelola secara benar dan bijaksana. Kelestarian manfaat yang timbul karena potensi dan fungsi didalamnya dapat diwujudkan selama keberadaannya dapat dipertahankan dalam bentuk yang ideal.
Soeriaatmadja (1997) menjelaskan hutan juga memberikan pengaruh kepada sumber alam lain. Pengaruh ini melalui tiga faktor lingkungan yang saling berhubungan, yaitu iklim, tanah, dan pengadaan air bagi berbagai wilayah, misalnya wilayah pertanian. Pepohonan hutan juga mempengaruhi struktur tanah dan erosi, jadi mempunyai pengaruh terhadap pengadaan air di lereng gunung.

Hutan yang terletak di sekitar kawasan gunung juga berperan dalam menjaga dan mempertahankan keseimbangan ekologis, keberadaannya sangat bermanfaat bagi kehidupan yang ada di bawah kawasannya. Ketersediaan air yang cukup bagi berbagai macam kebutuhan, kelestarian hasil tanaman  produksi melalui kesuburan tanah yang terjaga, dan keamanan fungsi lindung bagi ekosistem disekitarnya merupakan nilai yang ditawarkan dari keberadaan hutan di sekitar kawasan gunung.  Permasalahan yang akhir-akhir ini ditemui adalah menurunnya fungsi dan potensi hutan seiring dengan makin berkurangnya luasan yang dapat dipertahankan. Berbagai aktivitas manusia dilakukan untuk mengubah fungsi hutan secara ekologis menjadi pemanfaatan lahan secara ekonomis. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan perusakan hutan, namun umumnya  factor-faktor tersebut berkaitan erat dengan praktek-praktek pembangunan dengan sistem produksi yang tidak berkelanjutan. 


Downlaod Full

Continue Reading →

Makalah Kebidanan Pelayanan Preventif

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Sanitasi makanan sangat penting terutama di tempat-tempat umum yang erat kaitannya dengan pelayanan orang banyak. Puskesmas merupakan salah satu  tempat umum yang memberikan pelayanan kesehatan masyarakat dengan inti kegiatan berupa pelayanan medis yang diselenggarakan melalui pendekatan preventif. Untuk menunjang pelayanan medis bagi pasien yang diselenggarakan puskesmas, perlu adanya pengolahan makanan yang baik dan memenuhi syarat higiene sanitasi makanan (Djarismawati, 2004).

Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk melanjutkan kehidupan. Makanan yang dibutuhkan harus sehat dalam arti memiliki nilai gizi yang optimal seperti : vitamin, mineral, hidrat arang, lemak dan lainnya. Makanan harus murni dan utuh dalam arti tidak mengandung bahan pencemar serta harus higiene. 


Download Full
Continue Reading →

Makalah Kebidanan Febris

BAB I
PENDAHULUAN

A.    PENGERTIAN
Febris adalah peningkatan suhu tubuh yang di tandai dengan kenaikan titik ambang reduksi hipotalamus pusat regulasi atau pengaturan panas hipotalamus mengendalikan suhu tubuh dengan mengimbangi sinyal dan reseptor- reseptor neuronal fesifel dingin dan panas factor pengatur lainnya ialah suhu udara yang bersiklulasi dalam hipotalamus suhu tubuh mengikuti irama sirkandian.
Demam ialah suatu peningkatan suhu dalam tubuh akibat adanya gangguan dalam mekanisme pengatur panas yang di sebabkan oleh infeksi kerusakan jaringan program dan latihan yang berlebihan (nelson, 2000)


Continue Reading →

Makalah Budaya Korupsi Lengkap

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara historis, korupsi sudah mulai terjadi sejak masa-masa berkuasanya kerajaan yang ada di Indonesia. Faktor penyebab korupsi secara umumnya adalah feodalisme dan materialisme. Feodalisme adalah sistem kekuasaan yang didasarkan pada status. Akan tetapi, status bukan jaminan sebuah kekuasaan dan kekayaan. Hal tersebut sangat berbeda dengan golongan Borjuis di Eropa yang memang mereka terdiri dari orang-orang yang berpendidikan tinggi dan memiliki modal besar.

Kaum feodal membutuhkan dukungan agar kekuasan bisa bertahan (survive). Di Indonesia, masih menganut pola-pola demikian, ini terbukti pada masa kepemimpinan presiden Soeharto. Pada masa itu, korupsi sangat merajarela baik dipusat hingga ke pelosok daerah sekalipun di tanah air kita, termasuk di Aceh. 

Continue Reading →

Rabu, 27 Desember 2017

Makalah Ilmu Tafsir Lengkap

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Tafsir al-Qur'an adalah ilmu pengetahuan untuk memahami dan menafsirkan yang bersangkutan dengan Al-Qur-an dan isinya berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan tentang arti dan kandungan Al Qur’an, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak di pahami dan samar artinya, dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur'an diperlukan bukan hanya pengetahuan bahasa Arab saja tetapi juga berbagai macam ilmu pengetahuan yang menyangkut Al-Qur-an dan isinya, Ilmu untuk memahami Al-Qur'an ini disebut dengan Ushul Tafsir atau biasa dikenal dengan Ulumul Qur'an, terdapat dua bentuk penafsiran yaitu at-tafsîr bi al- ma’tsûr dan at-tafsîr bi-ar-ra’yi, dengan empat metode, yaitu ijmali, tahlili, muqarin dan maudhu’i. Sedangkan dari segi corak lebih beragam, ada yang bercorak sastra bahasa, fiqh, teologi, filsafat, tasawuf, ilmiyah dan corak sastra budaya kemasyarakatan.

Continue Reading →