Selasa, 27 November 2018

CERPEN PELITA HIDUPKU

PELITA HIDUPKU


Pikiranku melayang ke masa silam. Hari-hariku terselip dengan berbagai sensasi. Ocehan ibu dan ayah tak pernah terhiraukan dalam nuraniku. Yang hanya terpikir dalam benakku hiruk pikuk canda tawa di setiap hariku.
Sering kali ibu termenung dengan memasang wajah murung hingga meneteskan deraian air mata dari raut wajahnya. Huruf demi huruf merangkai berbagai kalimat yang dipanjatkan setiap menghadap sang khaliq demi mewujudkan kesadaran akan kesesatan dalam jiwa dan raga sang anak.
Rasa bersalah tak pernah tersirat dalam benakku. Maaf yang meluncur dari bibirku tak pernah terdengar oleh sang indera. “Akankah amanah Tuhan mampu aku taklukkan?” kata ibu. Tangisan air mata mengucur di mata ibu.
Semangat itu tdak pernah hilang, pantang menyerah dalam membimbingku. Kesabaran dan ketabahan yang menjadi senjata ibu dan ayah demi menghasilkan generasi yang berkualitas bagi Negara. Cinta dan kasih sayangnya sungguh sangat luar biasa.
Berbagai pelajaran telah kupetik, siraman rohani yang mengalir di sekujur tubuhku. Nasehat telah merasuk di jiwaku. Kepahitan-kepahitan masa silam telah sirna terbawa terpaan angin.
Dalam keheningan aku merenungi semua kesalahan-kesalahan pada masa silam. Goresan tinta hitam melumurui kertas putih kehidupanku. Aku ingin mengubur semua kekhilafanku yang telah lampau.
Penyesalan telah berkibar dalam ragaku. Kesadaran telah membangkitkan nuraniku. Aku telah tersadar orangtua sangat berharga dalam hidup ini, kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki adalah kasih dan cinta orangtua. Bakti kepada orangtua adalah surga di dalam dunia.
Pandanganku tertuju pada dua orang yang telah berjalan menyusuri jalan setapak. berarah menuju ke sebuah ladang rejeki demi menghidupi seorang anaknya. Yaa… dia adalah ayah dan ibuku. Wajah yang mulai mengkerut, rambut yang mulai memutih, tapi sinar di wajahnya masih mencerminkan semangat dalam menghadapi hidup. Begitu besar perjuanganmu wahai sang pelita hidupku sinarmu melebihi sinar mentari.
Sanggupkah diriku melihat keringat brlumuran di sekujur tubuhnya? Tidak! Tak kuasa mata ini membendung air yang meleleh dari dua bola mataku. Sungguh iba hatiku ini. Ingin segera membaawamu ke gerbang kesuksesan.
Ibu…
Ayah…
Aku sangat menyayangimu sehingga aku tak kuasa merangkai kalimat untuk mengungkapkannya. Aku sangat mencintaimu sehingga bumi dan seisinya tak mampu untuk melukiskannya.

Ibu, kau yang melahirkanku dengan jeritan yang sangat sakit membuatnya meneteskan air mata dan merawatku dengan penuh kesabaran. Tak akan mampu aku membalas semuanya. Ayah, adzan dan iqamah yang engkau kumandangkan di kupingku agar kelak aku dapat menjadi anak yang berbakti serta nafkah yang engkau wujudkan dengan berlumuran keringat. Tak mampu aku membalasnya. Meskipun dunia dan seisinya kuberikan kepadamu itu belum bisa membalas semua jasa-jasamu.
Terima kasih atas pengorbananmu selama ini. Perjuanganmu membawaku menikmati keindahan alam ini. Aku dapat bercengkrama di dunia luas ini.
Janjiku, aku tak ingin melihatmu terhanyut dalam kesedihan. Tak ingin melihat air matamu walau hanya setetes. Hanya senyuman yang ingin aku lihat dari raut wajahmu. Aku ingin jiwa dan ragamu terhias akan kebahagiaan. Aku ingin menjadikanmu ratu dan raja di sebuah istana yang akan aku buat nanti.
Kedewasaan telah menghampiriku. Pikiran telah melayang. Sejuta pertanyaan yang datang mengejarku. Kapan aku harus membuat pelita hidupku bangga?
Kemuliaan hatimu terpancar. Senyumanmu memberikan pertanda kebanggaan akan diriku. Melihat perubahan yang mengucur dalam nuraniku.
Rasa bersalah masih saja mengejarku. Aku merasa aku belum berarti apa-apa untuk mereka.
Impian-impian kini datang membayangiku. Mustahil rasanya impianku terlalu besar. Tapi motivasi selalu datang menghampiriku. Jangan takut untuk bermimpi besar. Doa dan usaha akan membawa kita ke puncak kesuksesan.
Doa serta usaha telah diijabah oleh sang khaliq. Gelar kesuksesan telah berhasil aku raih. Pasca sarjana telah aku lewati. Rasa syukur kian memuncak kepadamu yaa rabb… Aku bisa mewujudkan impian-impian aku membahagiakan orangtua.
Rumah mewah telah aku taklukkan serta mobil mewah telah aku wujudkan. Aku berhasil berkunjung ke rumah sang khaliq bersama keluargaku. Kepopuleranku menjadi penulis terbaik kini kian memuncak. Aku banyak dikenal orang lewat goresan penaku. Dan aku juga menjadi dosen di sebuah universitas ternama di Indonesia.
Ayah dan ibu terharu melihat kesuksesan yang kuraih. Tanpa dia sadari air matanya menetes. Seraya berkata “nak, aku bangga atas prestasimu serta sifatmu yang bijaksana. Tapi, harus kamu ingat semua itu hanya titipan semata dari sang khaliq.”
Aku sangat tersentuh dengan ungkapan beliau. Dan waktu tak akan aku sia-siakan. Kemarin bukan lagi milikku, sekaranglah yang aku punya, dan esok belum tentu aku dapatkan. Itulah ungkapan pujangga yang akan menjadi petunjuk di setiap langkahku.

***


0 komentar:

Posting Komentar

Blog Archive