Rabu, 16 Januari 2019

HAKIKAT MANUSIA DAN KEHIDUPAN


Pengertian Hakikat
Hakikat disini bukanlah sebagaimana dalam pandangan ahlul tarekat yang membagi manusia menjadi 3 tingkatan : ma’rifat, syari’at dan hakikat. Yang mana jika manusia masih mengerjakan shalat maka dikatakan baru pada tingkat ma’rifat. Dan menurut mereka, tingkatan yang tertinggi adalah hakikat.
Sebagaimana pemahaman kita, jika ada seseorang yang tata cara shalat dan wiridnya tidak ada sumber/dalilnya dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, maka itu adalah bid’ah. Namun mereka (ahlul tarekat) menjawab bahwa memang benar jika hal itu dilihat/ditinjau dari sisi ma’rifat dan syari’at, tetapi jika ditinjau dari sisi hakikat, maka itu bukanlah bid’ah. Ini adalah hal yang sangat aneh dalam agama kita. Bahwa kata mereka sesungguhnya orang yang sudah sampai kepada tingkat hakikat itu sekalipun syari’atnya bertentangan dengan islam tidaklah masalah, karena ia sudah melalui tahapan itu.

Padahal kalau dikaitkan dengan pemahaman tentang hakikat, maka manusia yang paling memahaminya adalah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, tapi beliau tidak meninggalkan syari’at. Bahkan beliau setiap malam melaksanakan Qiyamullail sampai kaki beliau bengkak. Dan ketika beliau ditanya kenapa “menyiksakan” dirinya untuk melakukan hal tersebut padahal Allah telah memberikan jaminan diampuni dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang. Maka jawab beliau :
“Tidakkah pantas kalau aku ini menjadi hamba yang bersyukur?”
Karenanya Islam mengajarkan, bahwa yang dimaksud dengan hakikat disini adalah memahami arti sebenarnya/esensi dari segala sesuatu, baik yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat.
Sebagai contoh :
  1. Dalam QS. 2 : 154
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang yang gugur dijalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
Yang dimaksud dengan hidup disini adalah hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, dimana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan disisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.

  1. Hakikat kekayaan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam :
Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda : “Tidak disebut kaya karena banyak hartanya, tetapi yang disebut kaya  (yang sebenarnya) adalah kekayaan jiwa. “ (HR. Bukhari-Muslim)
  1. Hakikat orang yang kuat
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata : Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Yang dinamakan orang kuat adalah bukan orang yang kuat bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya pada waktu marah.” (HR. Bukhari-Muslim)
  1. Hakikat kecantikan bukanlah sebagaimana kecantikan para selebritis, atau hakikat kepintaran bukanlah sebagaimana terlihat pada fisiknya (botaknya seorang professor).
Dengan demikian, tujuan dari kita mengetahui hakikat adalah agar kita memahami segala sesuatu supaya kita tidak tertipu. Namun seorang muslim memang tidak harus tahu hakikat dari segala sesuatu. Sebab sumber dari hakikat adalah Allah dan Rasul-Nya.
 I. Hakikat Manusia
Siapakah manusia sesungguhnya menurut pandangan Allah dan Rasul-Nya ?
a.       Status Manusia
Manusia disisi Allah adalah sebagai salah satu ciptaan (makhluk) Allah. Sebagaimana dalam QS. 96 : 2
 “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”
QS. 2 : 21
 “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”
Makna yang paling mendasar yang dapat diambil dari hal ini (manusia sbg makhluk) adalah bahwa manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sesungguhnya semua yang diciptakan oleh Allah memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sedangkan Allah Maha Sempurna, tidak memiliki kekurangan, keterbatasan atau kelemahan. Yang menunjukkan hal tersebut adalah ucapan “Subhanallah”, “Maha Suci Allah dari serba kekurangan dan keterbatasan”. Oleh karena itu tidaklah pantas manusia sebagai ciptaan untuk menyombongkan dirinya. Allahlah yang pantas untuk sombong, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna.
b.      Unsur Penyusun Manusia/Potensi Penyusun Manusia
Manusia sebagai ciptaan disusun atas 3 unsur :
1)      Jasad/Fisik
Bahan baku manusia ketika manusia pertama (Nabi Adam a.s) diciptakan adalah berasal dari tanah. Adapun hakikat tanah itu penuh kehinaan. Selanjutnya manusia keturunan Adam berasal dari air mani (air yang hina). QS. 15 : 28-30
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama.”  QS. 32 : 7-8
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).”
Mengapa manusia diciptakan dari tanah ? Padahal jika Allah mau, bisa saja manusia diciptakan dari emas. Namun hikmahnya adalah agar manusia tidak menyombongkan diri dengan menyebut asal kejadiannya/penciptaannya, sebagaimana iblis yang senantiasa mengungkapkan asal-usulnya dan membanggakan keturunannya. Sehingga jika ada manusia yang senantiasa membanggakan asal-usulnya maka ia memiliki sifat iblis.
QS. 15 : 31-33
“Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman : “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu ? Berkata iblis : “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”
Sebenarnya manusia tidaklah dilihat dari asal-usulnya, tapi dilihat dari amalannya/ketakwaannya. Karena sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertakwa. Bukannya karena asal-usul atau kecantikan/ketampanan. Jadi asal-usul atau kecantikan bukanlah indikasi kemuliaan seseorang dan bukan pula hal yang perlu kemudian dieksploitir.
2)      Ruh
Ruh adalah merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah. QS. 32 : 9
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
QS. 17 : 85
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah : “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Ruh kita membutuhkan dzikrullah agar hati kita menjadi tentram.QS. 13 : 28
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.”
Dan perumpamaan antara yang berdzikir dan yang tidak berdzikir adalah antara yang hidup dan yang mati.
3)      Akal
Akal diberikan oleh Allah agar digunakan untuk menuntut ilmu. Dengan akal, manusia memiliki ilmu yang digunakan untuk membedakan yang haq dan yang bathil. Jadi jika seseorang senantiasa menuntut ilmu tapi tidak bisa mengantarkannya untuk mengenal mana yang haq dan yang bathil, maka ilmu tersebut tidak berguna baginya. QS. 2 : 31-32
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman : “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar! Mereka menjawab : “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” QS. 16 : 78
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”

Pengertian Hakikat Manusia
Hakikat manusia adalah peran ataupun fungsi yang harus dijalankan oleh setiap manusia.  Kata manusia berasal dari kata “ manu ” dari bahasa Sanksekerta atau “ mens ” dari bahasa Latin yang berarti berpikir, berakal budi, atau bisa juga dikatakan “ homo ” yang juga berasal dari bahasa Latin.  Hal yang paling penting dalam membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah dapat dikatakan bahwa manusia dilengkapi dengan akal, pikiran, perasaan dan keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya di dunia.  Manusia merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki derajat paling tinggi di antara ciptaan yang lain.
Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan kedudukan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. 
Berikut penjelasan yang lebih rinci mengenai makhluk individu dan makhluk sosial.
  • Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Individu
Manusia sebagai makhluk individu mempunyai sifat-sifat individu khas yang berbeda dengan manusia lainnya.  Manusia berbeda dengan manusia lainnya.  Manusia sebagai individu bersifat nyata, yaiut mereka berupaya untuk selaliu merealisasikan kepentingan, kebutuhan, dan potensi pribadi yang dimilikinya.  Hal tersebut akan terus menerus berkembang menyesuaikan dengan perkembangan kehidupan yang dialaminya dan pertumbuhan yang ada pada dirinya.  Setiap manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi berbagai kebutuhan dan mempertahankan hidupnya.
  • Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial, artinya makhluk yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain.  Setiap manusia normal memerlukan orang lain dan hidup bersama-sama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.  Kenyataan ini sesuai dengan pendapat Aristoteles, menyatakan bahwa manusia adalah zoom politicon, yang berarti selain sebagai makhluk individu, manusia juga termasuk dalam makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan manusia lain.  Pada zaman purba, ketika kebutuhannya belum lengkap.  Manusia sering memenuhi kebutuhannya dengan membuat dan mencari sendiri.  Namun dengan semakin meningkat kebutuhan hidupnya, manusia membutuhkan orang lain untuk mendukung kehidupannya.  Pada perkembangan secara lebih luas dan kompleks, manusia membutuhkan tata masyarakat, lembaga-lembaga sosial, dan juga membutuhkan negara.

0 komentar:

Posting Komentar